Kita mudah terlena ketika
mencoba menyusun rencana yang optimal untuk perubahan. Kita terlalu berfokus
memikirkan pendekatan terbaik sehingga tidak pernah sampai beraksi. “Yang
terbaik adalah musuh yang baik”.
In motion dan action
itu berbeda. kedua gagasan itu terksesan serupa, padahal tidak sama. Ketika kalian
in motion, kalian membuat rencana, membuat strategi, yang belajar. Semua
itu baik, tapi tidak membuahkan hasil.
Sebaliknya, action adalah
tipe perilaku yang memberikan hasil. Contohnya seperti kalian menulis dua puluh
gagasan untuk artikel yang ingin kalian tulis, itu in motion. Kalau kalian
sungguh duduk dan menulis artikel, itu adalah action. Kadang in
motion ada gunanya, tapi perilaku itu tidak akan pernah membuahkan hasil
dengan sendirinya.
In motion tidak mengantar
kita ke hasil. Tapi terkadang kita sungguh perlu membuat rencana atau belajar
lebih banyak. Namun lebih sering daripada tidak, kita melakukannya karena in
motion memungkinkan kita merasa seolah-olah kita mendapatkan kemajuan tanpa
menempuh risiko gagal. Kebanyakan dari kita adalah ahli dalam menghindari
kritik. Itulah alasan terbesar kalian lebih banyak in motion daripada in
action: Kalian ingin menunda kegagalan.
In motion meyakinkan diri
kalian bahwa kalian masih membuat kemajuan itu mudah. In motion membuat
kalian merasa sudah mengerjakan sesuatu itu. Padahal, sesungguhnya kalian hanya
bersiap untuk melakukan apa yang seharusnya kalian lakukan.
Bila ingin menguasai kebiasaan,
kuncinya adalah mulai dengan perulangan, bukan membayangkan kesempurnaan. Ini langkah
pertama Hukum Ketiga: Kalian hanya perlu mengulang-ulangnya.
Mengulang kebiasaan mengantar ke
perubahan-perubahan fisik yang jelas dalam otak. Seperti otot-otot tubuh yang
bereaksi terhadap latihan beban teratur, bagian-bagian otak tertentu
beradaptasi sewaktu digunakan dan menyusut ketika kegiatan serupa ditinggalkan.
Setelah perulangan yang sering
berhasil membuat jalan pintas, kesulitan-kesulitan menghilang; aksi menjadi
begitu otomatis sehingga dapat dilakukan tanpa melibatkan pikiran sadar lagi. Akal
sehat dan bukti ilmiah saling sejalan: perulangan adalah suatu bentuk
perubahan.
Tiap kali mengulang suatu aksi,
kalian mengaktifkan rangkaian saraf tertentu yang terkait dengan kebiasaan
termaksud. Semua kebiasaan mengikuti lintasan serupa latihan serius sampai
menjadi perilaku otomatis, proses ini disebut sebagai otomatisasi. Yaitu kemampuan
melakukan perilaku tanpa memikirkan tiap langkahnya, yang terjadi ketika
pikiran bawah sadar mengambil alih.
Masalahnya bukan tentang berapa
lama waktunya, tapi seberapa sering kalian melakukannya. Yang menjadi pembeda
adalah frekuensi. Kebiasaan kalian saat ini terinternalisasi setelah lebih dari
ratusan, bahkan ribuan perulangan. Kebiasaan baru memerlukan tingkat frekuensi
yang sama. Kalian perlu merangkaikan upaya-upaya yang cukup sukses sampai suatu
perilaku tertanam kuat dalam pikiran dan kalian melewati Garis Kebiasaan.
Dalam praktik, tidak terlalu
penting berapa lama kebiasaan dapat menjadi otomatis. Yang penting kalian
melakukan sesuatu yang diperlukan untuk mendapatkan kemajuan. Entah aksi
menjadi otomatis penuh tidak begitu penting.
Untuk membangun kebiasaan,
kalian perlu untuk melatihnya. Dan cara paling efektif untuk melatihnya adalah
mengikuti kaidah dalam Hukum Ketiga Perubahan Perilaku: menjadikannya mudah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar