moving

PENGEMBANGAN DIRI / CHARACTER BUILDING / SELF IMPROVEMENT
Tampilkan postingan dengan label 3. GRIT Bagian I. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 3. GRIT Bagian I. Tampilkan semua postingan

GRIT #1 Kehadiran



     Ada sebuah kampus Akademi Militer Amerika Serikat di West Point, yang setiap tahun menerima 14.000 pelamar. Dari angka sebanyak itu, hanya 1200 yang diterima dan didaftarkan. Proses penerimaannya sama seperti universitas yang paling selektif, yaitu skor tertinggi untuk SAT atau ACT serta nilai tinggi di sekolahnya.
     Namun setelah melalui seleksi panjang dan ketat itu, 1 dari 5 kadet mengundurkan diri pada 2 minggu pertama program latihan Beast. Program peralihan dari kadet menjadi prajurit. Alasannya karena para kadet ditantang dengan berbagai cara dalam semua bidang perkembangan dan West Point membuat mereka menjadi lebih tangguh.


Jadi, orang seperti apa yang dapat lulus dari Beast?
     Pada saat penerimaan, West Point mengidentifikasi orang-orang yang berpotensi untuk berkembang di sana dengan menggunakan Skor Menyeluruh Kandidat—skor ujian SAT atau ACT, peringkat saat SMA, potensi kepemimpinan, dan ukuran objektif kebugaran jasmani. Skor Menyeluruh Kandidat ini adalah alat ukur terbaik West Point untuk memperkirakan bakat pelamar untuk menghadapi berbagai ujian keras dalam program West Point. Tetapi skor itu tidak memprediksi tepat siapa yang mampu lulus dari Beast.
     Orang yang bertahan adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan sulit, hal ini tidak berhubungan sama sekali dengan bakat. Orang yang mengundurkan diri bukan tidak mampu, tapi mereka tidak memiliki sikap pantang menyerah.


     Doktrin yang berkembang di masyarakat mengenai kesuksesan adalah apa pun bidangnya, orang yang paling sukses adalah orang yang bernasib baik dan berbakat. Tetapi, hal yang harus diperhatikan adalah orang-orang yang berprestasi tinggi tidak pernah merasa cukup mahir. Dalam arti kata, mereka tidak pernah berpuas diri sehingga mereka tidak pernah menyerah dalam meraih keinginan mereka. Mereka memiliki hasrat yang bertahan lama.
     Jadi, hal yang harus ditekankan adalah, apa pun bidangnya, orang yang sangat sukses memiliki tekad kuat yang terwujud dengan 2 cara, yaitu tegar dan bekerja keras serta mengetahui secara mendalam tentang apa yang mereka inginkan. Kombinasi dari hasrat dan kegigihan inilah yang membuat mereka berprestasi tinggi. Dalam ungkapan kata, mereka memiliki ketabahan.


     Ada yang disebut dengan skala ketabahan, tes yang mengukur sejauh mana kalian menjalankan hidup dengan ketabahan. Ketabahan dan bakat adalah hal yang terpisah. Karena pada dasarnya, bakat bukanlah jaminan ketabahan.

Lalu apa lagi selain ketabahan yang bisa memprediksi kesuksesan?
     Sebenarnya, di setiap bidang, jika kalian membandingkan orang-orang yang cocok dengan suatu karakteristik, ketabahan tetap memprediksi kesuksesan. Terlepas dari segala keunggulan khusus yang membantu kesuksesan di suatu bidang, ketabahan penting untuk semua hal.


     Penelitian terhadap mahasiswa Ivy League membuktikan bahwa mahasiswa yang memiliki skor SAT lebih tinggi cenderung sedikit kurang tabah dibandingkan rekan- rekan mereka,
"Potensi kita adalah satu hal. Apa yang kita lakukan dengan potensi kita adalah hal lain."

GRIT #2 Teralihkan Oleh Bakat



     Sebelum menjadi psikolog, Angela Duckworth (penulis GRIT) adalah seorang guru matematika. Seperti pada umumnya, terlihat jelas sejak minggu pertama bahwa beberapa siswa lebih mudah mengerti konsep matematika daripada teman sekelas mereka. Namun pada akhir periode pemberian nilai, dia terkejut melihat beberapa siswa pintar ini tidak mendapatkan nilai sebaik uang dia harapkan. Banyak siswa paling berbakat memperoleh nilai tidak memuaskan, bahkan lebih buruk.
     Sebaliknya, beberapa siswa yang awalnya mengalami kesulitan justru berprestasi lebih baik daripada perkiraan dia. Tampaknya, bakat alami tidak menjamin prestasi baik. Bakat untuk matematika berbeda dengan meraih prestasi tinggi di kelas matematika.
     Perhatiannya teralihkan oleh bakat.
      Pada kenyataannya, betapa cerdasnya—bahkan siswa yang menurutnya terlemah—mereka saat berbicara tentang hal-hal yang benar-benar menarik bagi mereka. Percakapan-percakapan yang dia rasa hampir mustahil untuk diikuti. Di sini dia menyadari bahwa bakat tiap siswa tidak sama. Tapi, dalam mengikuti pelajaran matematika, apakah mereka mengerahkan upaya yang cukup selama beberapa waktu, mereka akan mencapai apa yang mereka butuhkan? Tentu, pikirnya. Mereka semua cukup berbakat.


     Menjelang akhir tahun ajaran, Angela Duckworth menikah dan pindah dari New York ke San Francisco. Dia pun mengajar di Lowell High School, San Francisco. Di sana, dia menemukan bahwa siswa Lowell lebih unggul karena etika belajar mereka daripada kecerdasan mereka. Persis seperti yang dia temukan di New York, beberapa siswa yang saya perkirakan unggul, karena mengerjakan matematika dengan mudah, berprestasi lebih buruk daripada teman sekelas mereka. Sebaliknya, beberapa siswa yang bekerja paling keras secara konsisten meraih prestasi tertinggi dalam ujian dan ulangan.
     Salah satu pekerja keras ini adalah David Luong, siswa tahun pertama di kelas aljabar Angela. Mulanya David tidak menonjol. Ia pendiam dan duduk di bagian belakang. Ia jarang mengacungkan tangan dan jarang maju untuk memecahkan soal. Namun dia selalu mengejakan tugas dengan sempurna dan dia haus ilmu.
     Pada akhirnya, dia lulus dengan nilai sempurna dan lulus kuliah dengan dua gelar di jurusan teknik dan ekonomi. Intinya, bakat bukanlah takdir dan upaya akan menghasilkan keuntungan.
“Faktor penentu prestasi yaitu keyakinan bahwa semangat dan kerja keras pada akhirnya lebih penting daripada kemampuan intelektual.” – Charles Darwin


     “Bias kealamian” adalah prasangka terselubung terhadap orang-orang yang berprestasi karena kerja keras mereka, dan preferensi terselubung pada orang-orang yang kita pikir mencapai posisi mereka dalam hidup karena bakat alami. Mungkin bias ini tidak diakui orang kebanyakan orang, tapi bias ini terlihat nyata dalam pilihan yang kita buat.


     Apakah bakat adalah hal yang buruk? Apakah kita semua memiliki bakat yang setara? Tidak dan tidak! Kemampuan untuk dengan cepat memanjat kurva pembelajaran keterampilan mana pun tentunya adalah hal yang sangat baik, dan suka tidak suka, beberapa di antara kita memiliki kemampuan yang lebih baik daripada yang lain.
     Keasyikan dengan bakat adalah hal yang berbahaya. Jika kita mengarahkan perhatian pada bakat, kita berisiko meninggalkan hal lain di bawah bayang-bayang. Itu sama saja seperti beranggapan bahwa faktor-faktor lain—termasuk ketabahan—tidak sepenting sebenarnya.
Ubah pola pikir kalian dari Hanya ini yang bisa kau lakukan menjadi Siapa yang tahu apa yang bisa kau lakukan?

GRIT #3 Upaya Dua Kali Lebih Penting



     Hal yang terjadi di dunia setiap kali ada orang yang berhasil mencapai prestasi besar yang patut ditulis, kita buru-buru mengangkatnya sebagai orang yang luar biasa “berbakat”.
     Bila menekankan bakat secara berlebih, kita meremehkan hal lain. Ekstremnya, ini seolah-olah kita jauh di dalam, menganggap hal berikut sebagai –kebenaran:


     Menurut Dan Chambliss, kinerja superlatif sebenarnya adalah penyatuan dari beberapa keterampilan atau kegiatan kecil, yang masing-masing dipelajari atau diketahui secara kebetulan, yang dilatih secara cermat menjadi sebuah kebiasaan, lalu dicocokkan satu sama lain menjadi kesatuan utuh. Tidak ada hal yang luar biasa pada tindakan ini; hanya kenyataan bahwa ini semua dilakukan secara konsisten dan benar, dan secara bersama menghasilkan keunggulan.
     “Bakat”, menurut pengamatan dia dalam dunia atletik, “adalah penjelasan awam paling umum yang kita miliki untuk menjelaskan kesuksesan atletik”. Seolah-olah bakat adalah semacam “zat tak terlihat di balik permukaan realitas kinerja, yang akhirnya membedakan mana atlet terbaik.” Dan atlet-atlet hebat ini tampaknya diberkati “dengan bakat istimewa, ‘sesuatu’ dalam diri mereka, yang tidak ada pada diri kita—mungkin bersifat fisik, genetik, psikologis, atau fisiologis. Beberapa orang ‘memilikinya’, dan yang lain tidak. Beberapa adalah ‘atlet alami’ dan beberapa lainnya bukan.”
     Nietzsche, seorang filsuf Jerman abad-19, yang bahkan kata-katanya beberapa kali dicantumkan di artikel saya mengenai pengalaman Frankl dari buku MAN’S SEARCH FOR MEANING pernah juga berkata mengenai bakat. “Dengan segala hal sempurna” tulisnya, “kita tidak bertanya bagaimana kesempurnaan tersebut tercapai.” Sebaliknya, “kita bersukacita dengan kenyataan saat ini seolah-olah kenyataan ini datang dari tanah berkat sihir.”
     Memitoskan bakat alami menghindarkan kita dari keharusan untuk menghadapi tantangan. Membuat kita santai. Itulah yang tak diragukan lagi terjadi pada hari-hari awal Angela mengajar, ketika dia secara keliru  menyamakan bakat dan prestasi, dan dengan melakukannya, dia menghilangkan usaha dari pertimbangan lebih lanjut.


     Bila bakat tidak cukup untuk menjelaskan prestasi, apa yang terlewat?
     Angela Duckworth menyusun teori tentang psikologi pencapaian dan menerbitkannya melalui sebuah artikel yang memaparkan dua persamaan sederhana yang menjelaskan cara beralih dari bakat ke prestasi.
 

     Bakat adalah secepat apa keterampilan kalian menjadi semakin baik bila kalian menginvestasikan upaya. Prestasi adalah apa yang terjadi bila kalian membawa keterampilan yang kalian peroleh dan menggunakannya. Tentunya, peluang kalian juga sangat penting, dan mungkin melebihi hal apa pun menyangkut individunya.
“Satu-satunya hal yang saya lihat sangat berbeda pada saya adalah: saya tidak takut mati di treadmill. Saya tidak akan membiarkan orang lain bekerja lebih baik daripada saya, titik. Anda mungkin lebih berbakat daripada saya, anda mungkin lebih pintar daripada saya, Anda mungkin lebih seksi daripada saya. Anda mungkin lebih segalanya daripada saya. Anda mengungguli saya dalam sembilan kategori. Namun, bila kita naik treadmill bersama, ada dua kemungkinan: Anda akan turun terlebih dahulu atau saya akan mati. Sesederhana itu.” -Will Smith
      Seseorang yang dua kali lebih berbakat tapi dengan semangat kerja separuh dari orang lain mungkin akan mencapai level keterampilan yang sama tapi menghasilkan jauh lebih sedikit setelah beberapa waktu. Ini karena saat orang-orang tabah meningkatkan keterampilan mereka, mereka juga menggunakan keterampilan itu, orang yang mengimbangi orang berbakat alami karena bekerja lebih keras dalam jangka panjang akan mencapai lebih banyak hal.
     Keterampilan tidak sama dengan prestasi. Tanpa upaya, bakat kalian tidak lebih dari potensi yang tidak dipenuhi. Tanpa upaya, keterampilan kalian tidak lebih dari apa yang bisa kalian lakukan tapi tidak kalian lakukan. Dengan upaya, bakat berubah menjadi keterampilan, dan pada waktu yang sama, upaya membuat keterampilan berubah menjadi produktif.

GRIT #4 Setabah Apakah Anda?


     Banyak usaha yang awalnya tampak menjanjikan ternyata berakhir buruk. Banyak rencana bisnis optimis yang berakhir di tong sampah.
     Ketabahan itu bukan hanya bekerja luar biasa keras. Itu hanya sebagian dari ketabahan. Untuk satu hal, tidak ada jalan pintas untuk meraih keunggulan. Mengembangkan keahlian nyata, memikirkan jalan keluar untuk masalah sulit, ini semua butuh waktu—lebih lama daripada apa yang dibayangkan sebagian orang. lalu, kalian harus menerapkan keterampilan itu dan menghasilkan barang atau jasa yang berharga bagi orang lain. Karena bahkan Roma pun tidak dibangun dalam sehari.
     Ketabahan adalah tentang mengerjakan hal yang sangat kalian pedulikan sehingga kalian bersedia untuk tetap setia pada hal tersebut. Singkatnya, melakukan apa yang kalian cintai.
     Ketabahan memiliki dua komponen: hasrat dan kegigihan. Dalam tes skala ketabahan, skor kegigihan sering kali lebih tinggi daripada skor hasrat. Pola yang konsisten ini adalah tanda bahwa hasrat dan kegigihan bukanlah hal yang sama.


     Pete Carroll, seorang pelatih Seattle Seahawks, memaparkan: “Apakah Anda memiliki falsafah hidup?”
     Bagi beberapa di antara kita, pertanyaan ini tak masuk akal. Kita mungkin menjawab: Yah, banyak hal yang ingin saya capai. Banyak cita-cita. Yang mana yang Anda maksud?
     Namun, orang lain menjawab dengan keyakinan: Inilah yang saya inginkan. Segalanya menjadi sedikit lebih jelas bila kalian memahami level cita-cita yang ditanyakan oleh Pete. Ia bertanya apa yang berusaha kalian peroleh dalam hidup ini. Dari segi ketabahan, dia bertanya tentang hasrat hidup kalian. Falsafah Pete adalah: Lakukan segala sesuatu dengan lebih baik daripada sebelumnya.
     Satu cara untuk memahami apa yang dibicarakan Pete adalah dengan membayangkan cita-cita dalam hierarki:

     Ketabahan adalah tentang mempertahankan cita-cita level puncak yang sama selama jangka waktu yang panjang. Pada orang yang sangat tabah, sebagian besar cita-cita level menengah dan level rendah, dalam hal tertentu, berkaitan dengan cita-cita tertinggi itu. Sebaliknya, kurangnya ketabahan bisa disebabkan oleh struktur cita-cita yang kurang jelas.
     Kita bisa meringkas daftar panjang cita-cita pekerjaan level menengah dan level rendah menurut manfaatnya dalam mewujudkan cita-cita yang sangat penting. Satu cita-cita profesional level puncak, dan bukan jumlah yang lain, adalah ideal. Singkat kata, semakin menyatu, selaras, dan terkoordinasi hierarki cita-cita kita, semakin baik.


     Dua indikator dapat dengan mudah dijelaskan sebagai parameter hasrat untuk Skala Ketabahan:

  • Sejauh apa ia bekerja dengan mempertimbangkan tujuan jauh (bertolak belakang dengan hidup pas-pasan). Persiapan aktif untuk hidup kemudian hari.  Bekerja untuk mencapai cita-cita yang pasti.
  • Kecenderungan untuk tidak meninggalkan tugas demi perubahan semata. Tidak mecari sesuatu yang segar karena sesuatu yang baru. Tidak “mencari perubahan”.
     Dan dua yang lain dapat dengan mudah dijelaskan sebagai parameter kegigihan untuk Skala Ketabahan.
  • Tingkat kekuatan kehendak atau kegigihan. Tekad bulat untuk mengikuti suatu jalur begitu sudah diputuskan.
  • Kecenderungan untuk tidak meninggalkan tugas saat menghadapi rintangan. Kegigihan, keuletan, tekad kuat.

“Kecerdasan tinggi tapi bukan yang tertinggi, dikombinasikan dengan tingkat kegigihan yang tinggi,  akan mencapai keunggulan yang lebih besar daripada tingkat kecerdasan tertinggi dengan kegigihan yang kurang.” -Cox

     Berapa pun skor kalian pada Skala Ketabahan, ini diharapkan membatu kalian untuk berintrospeksi. Ini kemajuan yang memperjelas cita-cita kalian, dan sejauh apa cita-cita kalian selaras dengan sebuah hasrat yang sangat penting. Hal ini juga merupakan kemajuan untuk memahami dengan lebih baik seberapa baik kalian saat ini mampu bertahan menghadapi slip penolakan hidup.

GRIT #5 Ketabahan Tumbuh



“Seberapa besar pengaruh gen kita terhadap ketabahan kita?”
     Jawabannya adalah sebagian. Ilmu pengetahuan membawa kemajuan besar dalam mencari tahu bagaimana gen, pengalaman, dan interaksinya membuat kita menjadi diri kita sendiri. Setiap sifat manusia dipengaruhi oleh gen dan pengalaman.
     Tidak mungkin sekelompok gen dapat berubah begitu dramatisnya tanpa dipengaruhi lingkungan. Sama halnya, sifat-sifat seperti kejujuran, kemurahan hati, dan ketabahan dipengaruhi juga oleh pengalaman.


     Bakat, dalam berbagai variasi, dipengaruhi juga oleh gen. Beberapa dari kita terlahir dengan gen yang mempermudah kita untuk belajar sesuatu hal. Namun, bertentangan dengan intuisi, bakat tidak sepenuhnya genetis: pada tingkat apa kita mengembangkan keterampilan apa pun merupakan fungsi dari pengalaman.
     Menurut para ilmuwan, pembawaan maupun pengasuhan mempunyai peran menentukan hal-hal seperti bakat dan ketabahan. Tapi sebaliknya, banyak studi penelitian menunjukkan bahwa hampir semua sifat manusia adalah poligenik, yang berarti sifat itu dipengaruhi oleh lebih dari satu gen. bahkan banyak gen yang berinteraksi satu sama lain dan dipengaruhi lingkungan secara rumit dan belum dipahami.
     Singkatnya, pertama: ketabahan, bakat, dan semua sifat psikologis lain yang relevan dengan kesuksesan dalam hidup dipengaruhi oleh gen dan juga pengalaman. Kedua: tidak ada gen tunggal untuk ketabahan atau sifat psikologis lainnya.


     Perkiraan faktor keturunan menjelaskan mengapa manusia berbeda dari angkat rata-rata, tapi faktor keturunan tidak menjelaskan apa-apa tentang angka rata-ratanya sendiri. Lingkungan tempat kita tumbuh dewasa sdalah hal yang benar-benar penting dan sangat penting. Perbedaan lingkungan yang kecil, atau perbedaan genetik, bisa memicu lingkaran kebajikan. Apa pun itu, terjadi penggandaan efek sosial, melalui kultur, karena masing-masing kita memperkaya lingkungan kita semua.
     Apa yang ditunjukkan data ini adalah bagaimana orang menjadi dewasa seiring perjalanan waktu. Secara kolektif, data ini menunjukkan apa yang oleh psikolog kepribadian dinamakan “prinsip kematangan”. Kita tumbuh dewasa. Atau setidaknya, sebagian besar dari kita tumbuh dewasa.
     Bagaimana persisnya pengalaman hidup mengubah kepribadian?
     Alasannya adalah bahwa kita belajar sesuatu yang tidak kita ketahui sebelumnya. Selain wawasan tentang kondisi manusia, yang berubah dari diri kita adalah keadaan kita. Saat usia kita bertambah, kita terdorong ke situasi baru yang mengharuskan kita untuk bertindak secara berbeda dari biasanya. Dengan kata lain, kita berubah bila kita perlu berubah. Kebutuhan adalah induk dari adaptasi.
     Hal utama tentang prinsi kematangan, menurut Angela Duckworth adalah setelah beberapa waktu, kita memetik pelajaran hidup yang tidak akan kita lupakan dan kita beradaptasi sebagai respons terhadap tuntutan keadaan kita. Akhirnya, cara baru dalam berpikir dan bertindak menjadi sebuah kebiasaan. Kita sudah beradaptasi, adaptasi tersebut bertahan lama, dan akhirnya identitas kita berkembang. Kita menjadi dewasa.


     Teladan ketabahan juga suka menyerah. Namun, semakin tinggi level cita-cita yang dimaksud, semakin keras kepala mereka untuk mencapainya. Yang paling penting, teladan ketabahan tidak suka berganti kompas: bila menyangkut satu sasaran penting yang memandu hampir semua hal lain yang mereka lakukan, orang-orang yang sangat tabah cenderung tidak mengucapkan pernyataan tersebut.


     Banyak hal mengenai ketabahan tumbuh. Ada 4 aset psikologis yang dimiliki oleh ketabahan yang dewasa. Keempatnya cenderung berkembang, selama beberapa tahun, dalam urutan tertentu.
  • Minat. Hasrat bermula dari hakikat menikmati apa yang kalian lakukan. Keterpikatan dengan keseluruhan upaya dan menganggapnya sebagai hal yang bermakna, sehingga tiba di titik mencintai apa yang kalian lakukan.
  • Kapasitas untuk berlatih. Satu bentuk kegigihan adalah kedisiplinan harian untuk melakukan segala sesuatu dengan lebih baik daripada kemarin. Jadi, setelah menemukan dan mengembangkan minat di bidang tertentu, kalian harus mencurahkan diri kalian pada jenis latihan yang terfokus dan sepenuh hati, keterampilan yang melampaui tantangan yang berujung pada penguasaan. Fokus pada kelemahan kalian, dan kalian harus melakukannya berulang kali dan melawan rasa berpuas diri.
  • Tujuan. Yang mematangkan hasrat adalah keyakinan bahwa pekerjaan kalian penting.
  • Harapan. Harapan adalah kegigihan untuk bangkit. Harapan mendefinisikan setiap tahap. Pada berbagai titik, dengan cara besar atau kecil, kita jatuh terpukul. Bila kita tidak bangkit, ketabahan kalah. Bila kita bangkit, ketabahan menang.

     Keempat aset ini bukanlah komoditas yang kalian miliki atau tidak. Kalian belajar menemukan, mengembangkan, dan memperdalam minat kalian. Kalian bisa memperoleh kebiasaan disiplin. Kalian bisa mengolah kesadaran akan tujuan dan makna. Dan kalian bisa mengajari diri untuk berharap.