Begitu terbentuk, kebiasaan itu
terkesan melekat untuk selamanya. Mengubah kebiasaan menjadi sulit karena dua
alasan: Kita berusaha mengubah sesuatu tapi salah sasaran dan Kita berusaha
mengubah kebiasaan dengan cara yang keliru.
Kesalahan pertama adalah
berusaha mengubah sesuatu tapi salah sasaran. Bayangkan seperti lapisan-lapisan
dalam sebutir bawang. Lapisan pertama mengubah hasil kalian. Lapisan ini
terkait mengubah hasil. Kebanyakan sasaran yang kalian tetapkan berhubungan
dengan lapisan perubahan ini. Lapisan kedua adalah mengubah proses kalian.
Lapisan ini terkait dengan mengubah kebiasaan dan sistem. Kebanyakan kebiasaan
yang kalian bangun terkait dengan ini. Lapisan ketiga dan paling dalam
adalah mengubah identitas kalian. Lapisan ini terkait dengan mengubah
keyakinan. Sebagian keyakinan, asumsi, dan kecenderungan yang kalian pegang
terkait dengan lapisan ini.
Banyak orang memulai proses pengubahan
kebiasaan dengan berfokus pada apa yang ingin mereka raih. Ini mengantar kita
kepada kebiasaan berbasis hasil. Alternatifnya adalah membangun kebiasaan
berbasis identitas. Dengan pendekatan ini, kita mulai dengan berfokus pada kita
ingin menjadi sosok seperti apa.
Kebanyakan orang bahkan tidak
mempertimbangkan perubahan identitas ketika mereka menetapkan ingin memperbaiki
diri. Mereka menetapkan sasaran dan menentukan aksi-aksi yang harus mereka
ambil untuk meraih sasaran itu tanpa mempertimbangkan keyakinan-keyakinan yang
mendorong aksi-aksi itu.
Dibalik setiap sistem aksi
terdapat sistem keyakinan. Contohnya sistem demokrasi didasarkan pada keyakinan
kebebasan, kekuasaan mayoritas, dan keadilan sosial. Sistem kediktatoran
memiliki seperangkat keyakinan yang berbeda, seperti otoritas mutlak dan
kepatuhan ketat. Pola serupa berlaku pada individu. Ada seperangkat keyakinan
dan pengandaian yang membentuk sistem, identitas di balik kebiasaan-kebiasaan.
Perilaku yang tidak bersesuaian
dengan diri tidak akan tahan lama. Mengubah kebiasaan itu sulit jika kalian
tidak pernah mengubah keyakinan mendasar mengantar ke perilaku lama. Kalian mempunyai
sasaran baru dan rencana baru, tapi kalian tidak mengubah siapa kalian.
Bentuk akhir motivasi yang
muncul secara alami adalah ketika kebiasaan menjadi bagian dari identitas
kalian. Di satu pihak kita mengatakan bahwa kita tipe orang yang menginginkan
ini. Ini sangat berbeda dengan mengatakan kita tipe orang seperti ini.
Semakin bangga kalian terhadap
aspek tertentu dalam identitas kalian, makin termotivasi kelian untuk
mempertahankan kebiasaan-kebiasaan yang terkait dengannya. Ketika kebanggaan
kalian ikut berperan, kalian akan berjuang mati-matian untuk mempertahankan
kebiasaan kalian.
Perubahan perilaku yang sejati
adalah perubahan identitas. Kalian mungkin memulai datu kebiasaan karena
termotivasi, tapi satu-satunya penyebab yang membuat kalian bertahan adalah karena
kebiasaan itu merupakan bagian identitas kalian.
Perilaku kalian biasanya mencerminkan
identitas kalian. Hal yang kalian kerjakan menunjukkan tipe pribadi yang kalian
yakini adalah diri kalian. Ketika perilaku dan identitas kalian benar-benar
selaras, kalian tak lagi harus berusaha mengubah perilaku. Kalian sekadar
bertindak seperti tipe yang kalian yakini sebagai diri kalian sendiri.
Ini pun seperti pedang bermata
dua. Ketika sedang bekerja untuk kalian, perubahan identitas dapat menjadi
kekuatan yang dahsyat untuk perbaikan diri. Namun, ketika sedang bekerja
melawan kalian, perubahan identitas dapat menjadi kutukan.
Identitas muncul dari
kebiasaan-kebiasaan kalian. Setiap aksi sama seperti suara dukungan untuk tipe
orang yang kalian inginkan. Menjadi versi terbaik diri kalian menuntut kalian
terus menerus mengedit keyakinan-keyakinan, dan meningkatkan serta memperluas
identitas kalian. Alasan utama kebiasaan itu
penting bukan karena memberi kalian hasil-hasil yang baik (meskipun bisa), tetapi
karena kebiasaan dapat mengubah keyakinan tentang diri kalian sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar