Manusia sama seperti hewan yang
suka bergerombol. Kita ingin merasa bersesuaian, terikat dengan yang lain, dan
mendapatkan rasa hormat serta persetujuan dari sesama kita. Kecenderungan-kecenderungan
seperti ini sangat penting bagi kemampuan bertahan hidup kita. Sementara itu,
mereka yang berkolaborasi dan memiliki ikatan dengan yang lain merasa makin
aman, dapat mempunyai pasangan, dan bisa menikmati sumber daya bersama. Salah satu
hasrat manusiawi yang paling dalam adalah merasa dimiliki.
Kita tidak memilih kebiasaan di
babak awal hidup kita; kita meniru. Kita seperti mengikuti naskah orang-orang
di sekitar kita dan di lingkungan yang lebih besar. Tiap kultur dan kelompok
memiliki seperangkat harapan dan standar masing-masing. Dalam banyak hal,
norma-norma sosial ini adalah aturan-aturan tak terlihat yang mengarahkan
perilaku kalian setiap hari. Kalian pasti selalu mengingatnya. Sering kali
kalian mengikuti kebiasaan dalam kultur itu tanpa berpikir, tanpa bertanya, dan
terkadang tanpa mengingat.
“Adat dan gaya hidup dalam masyarakat menyapu habis kita semua.” – Michel de Montigne
Sering kali hidup seiring dan
sejalan dengan kelompok tidak terasa sebagai beban. Semua orang ingin merasa
dimiliki. Seiring dan sejalan menumbuhkan keyakinan bahwa kalian “bagian dari
mereka”. Perilaku menjadi menarik ketik membantu kita menjadi sesuai.
Kita meniru kebiasaan dari tiga
kelompok berikut:
- Yang akrab dengan kita.
- Yang banyak.
- Yang berkuasa.
Tiga kelompok menawarkan peluang
untuk mendapatkan manfaat dari Kaidah Kedua Perubahan Perilaku dan menjadikan
kebiasaan kita lebih menarik.
Meniru Orang yang Akrab
Kita meniru kebiasaan orang-orang
di sekitar kita. kita cenderung mencobanya juga. Kadang kita meniru orang di
sekitar kita tanpa menyadarinya. Makin akrab kita dengan seseorang, makin
mungkin kita meniru beberapa kebiasaan mereka. Satu hal paling efektif yang
dapat dilakukan untuk membangun kebiasaan yang lebih baik adalah bergabung
dengan kultur tempat perilaku yang kalian inginkan dianggap perilaku yang
normal.
Agar kebiasaan kalian lebih
menarik lagi, bergabunglah dengan kultur tempat perilaku yang kalian inginkan
dianggap sebagai perilaku normal dan kalian sudah memiliki kesamaan dengan
kelompok. Tidak ada yang lebih mendukung motivasi dibandingkan menjadi anggota
kelompok. Kondisi itu mengubah proyek pribadi menjadi proyek bersama.
Meniru Orang Banyak
Setiap kali tidak yakin bagaimana
harus bertindak, kita mencermati reaksi kelompok untuk memandu perilaku kita.
Kita terus memantau lingkungan kita sambil bertanya “Apa yang dilakukan oleh
semua orang lain?”. Biasanya ini menjadi strategi yang cerdas. Ada banyak bukti
untuk itu. Namun, bisa juga ada sisi buruknya.
Perilaku normal kelompok sering
kali mengalahkan perilaku yang diinginkan oleh perorangan. Ada tekanan internal
yang sangat kuat untuk tunduk pada norma-norma kelompok. Pikiran manusia tahu
bagaimana harus menyesuaikan diri dengan orang lain. Kita dibuat ingin sejalan
dengan kebanyakan orang lain. Ini modus alami. Kalian bisa melawannya, tapi
tidak mudah. berjalan melawan arus dalam kultur tempat kalian tinggal menuntut
kerja lebih keras.
Ketika mengubah kebiasaan
berarti menantang kelompok, perubahan itu tidak menarik. Ketika mengubah
kebiasaan berarti menjadi lebih sesuai dengan kelompok, perubahan itu sangat
menarik.
Meniru Orang yang Berkuasa
Manusia di mana pun berusaha
meraih kekuasaan, kehormatan, dan status. Kita tertarik meniru
perilaku-perilaku yang membuat kita dihormati, disepakati, dipuji, dan memiliki
status. Jadi, begitu berhasil menyesuaikan diri, kita mulai mencari cara untuk
menonjol dibanding orang lain.
Itulah alasan kita begitu peduli
terhadap kebiasaan orang yang sangat efektif. Kita meniru perilaku orang sukses
karena kita sendiri ingin sukses. Jika suatu perilaku dapat membuat kita
disetujui, dihormati, dan dipuji, kita merasa perilaku itu menarik. Kita juga
termotivasi untuk menghindari perilaku yang akan menurunkan status kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar